Pendakian Gunung Ciremei via Linggarjati – Apuy

Terbangun dari tidur menjadi situasi yang tidak menyenangkan, karena biasanya kita akan sulit tertidur lagi. Berbeda dengan pagi itu,   jam 1 pagi saya dengan tidak sengaja menyetujui ajakan teman yang hampir saja lupa mengajak saya untuk Pendakian ke Gunung Ciremai, 3078 mdpl, tanpa berfikir panjang saya langsung packing seketika itu juga. 

Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat, yang melintasi 3 wilayah kabupaten; Majalengka, Kuningan dan Cirebon. Jalur Pendakian ada 3 yang resmi yaitu Linggar Jati (650 mdpl) sebagai jalur tersulit, Apuy (1175 mdpl) dan Palutungan (1070 mdpl).  Pendakian kali ini kami naik dari Jalur Linggar Jati dan turun melalui Jalur Apuy.

9 Maret 2012.

Sore itu kepergian kami disertai dengan hujan, dari halte FTUI saya bersama 4 orang teman lainnya berangkat ke Kampung Rambutan, dengan 4000 kami tiba di terminal yang dikunjungi oleh jutaan orang setiap tahunnya (mungkin). Selama penantian paling asik makan gorengan, maka jam 06.10 WIB datanglah bus dengan biaya 40.000, dengan kondisi yang mengharukan, berangkat menuju Kuningan, sangat menghabiskan waktu karena mobil ngetem dan mogok. Kami tiba dini hari sekitar 02.35 WIB di Bando Rasa Wetan, dan menunggu angkutan desa hingga pukul 04.30 WIB, biaya yang dikeluarkan adalah 6.000 saja.

Bando Rasa Wetan

10 Maret 2012.

Setibanya di basecamp kami makan terlebih dahulu, dan mendaftarkan diri, karena statusnya sebagai Taman Nasional maka wajib untuk simaksi terlebih dahulu dan membayar 10.000, jangan lupa simpan bukti untuk ditunjukkan di basecamp turun nantinya.

Basecamp Linggar Jati 600 mdpl

Kami berangkat pukul 09.10 WIB, belum lama langsung disambut aspal terjal yang terus menanjak jauh hingga pos pertama yaitu pos cibunar, benar-benar sambutan yang menyenangkan untuk menyapa fisik dan adrenalin pendaki. Sampai sana juga ada warung dan peternakan kambing, kami disapa ibu penjaga warung, sapaan khas orang desa tulus dan apa adanya.

Setelah pos ini naik sedikit dan belok kiri, terus berjalan hingga sepanjang perjalanan akan banyak menemukan pondokan, namun tutup jika tidak musim pendakian.

Pos Cibunar

kami menggunakan management istirahat setiap satu jam sekali dengan minum tiap orang satu teguk, hal ini karena Ciremai tidak ada sumber air, terakhir di Pos Cibunar, jadi kami harus sangat hemat. Jangan lupa foto semua informasi seperti peta dan jalur yang ada dikaca pos pendaftaran, karena akan sangat bermanfaat ketika kehilangan arah dalam pendakian.

Perjalanan semakin terjal disertai licinnya jalan, semak dikanan kiri begitu banyak, menyambut langkah dengan basah dan lembabnya dedaunan. Sebelum pos kedua kita akan berada pada tanah lumayan datar cukup lama, hingga kami tidak menemukan pos yang dikenal dengan Leuweung Datar, karena berjalan cepat dan yang kami temukan adalah tulisan pos ketiga yaitu Condong Amis waktu yang dihabiskan kira-kira 1 jam. Diperhentian ini kita diperingatkan apabila cuaca buruk maka hentikan pendakian, karena setelah pos ini jalur pendakian akan semakin menantang.

Berjalan 60 menit maka akan menemukan pos berikutnya yaitu Kuburan Kuda yang konon dulunya banyak kuda yang dikubur disini karena mati dalam pendakian. Disini bisa mendirikan 3-4 tenda. Pos berikutnya adalah Pengalap tanjakan semakin terjal hingga kemiringan 65-70 derajat , dan kita hanya dapat berpegangan pada akar-akar pohon. Disini cukup luas bisa mendirikan 9-10 tenda sekaligus, sangat direkomendasikan untuk pendakian masal camp disini karena setelah ini pendakian akan semakin berat dan sulit menemukan tempat luas.

Pos Pangalap 1650 mdpl 5,5 Km Ke Puncak

Satu jam perjalanan yang semakin terjal tanpa bonus untuk menuju pos berikutnya yaitu Tanjakan Seruni dari nama sudah dapat dibayangkan terjalnya jalan ini. Sampai di Pos hanya dapat mendirikan 2-3 tenda saja. Pos yang harus dituju selanjutnya adalah pos Bapa Tere  di jalur ini pendaki harus menjaga keseimbangan fisik juga mental, tidak disarankan membangun tenda karena sangat terjal, vegetasi sudah mulai ditemukan lumut di pepohonan. Namun karena sudah sore kami membangun tenda juga akhirnya, pastikan tidak berada pada pohon yang mudah roboh, dan angin yang kencang.

“Penginapan” Kami

11 Maret 2012. 

Kami meneruskan perjalanan  jam 06.00 WIB, kami berbenah sekaligus makan pagi dengan roti dan susu, 07.15 WIB kami memulai perjalanan menuju pos berikutnya Batu Lingga, disini muat untuk 4-5 tenda.

Perjalanan diteruskan dengan kondisi jalur yang semakin menanjak berbatu dan licin, jalur pun sering terputus sehingga mengharuskan kita menggunakan feeling untuk menetukan jalur yang akan digunakan, meskipun demikian tetap aman, karena akan sama juga bertemu, namun mungkin akan lama.

Perjalanan menuju pos Sangga Buana I dan Sangga Buana II sangat terjal, tidak jarang kita akan menemukan jalur yang sempit berada pada celah bebatuan, juga terjal menanjak, kehati-hatian sangat diperlukan, bagi para pendaki hal ini sangat menantang. Namun bagi pemula mungkin ini hambatan.

Tidak disarankan membangun tenda karena sangat terjal. Bagaimana pun caranya teruskan pendakian hingga Pengasinan, ketika kami datang sedang badai dan berkabut, sehingga memutuskan untuk istirahat, susu dan teh menemani kami dalam dinginnya kabut dan kencangnya tiupan badai. Tepat di kiri papan tanda, kita bisa mendirikan tenda 3-4 dan cukup terlindung dari angin, tanahnya juga dilapisi pasir hitam sehingga cukup nyaman.

Jalur Terhimpit Batu

Jalur Terhimpit Batu

Sempit, Licin dan Terjal

Dan tepat jam 13.30 WIB kami tiba di Puncak yang saya tidak tau namanya, dari Jalur Linggar Jati ini terus berjalan ke arah kiri maka akan menemukan Puncak Sunan Mataram (3058 mdpl) dengan triangulasi yang sudah roboh, teruskan perjalanan kearah kiri dan akan menemukan Puncak Sunan Cirebon  merupakan puncak tertinggi (3078 mdpl) yang ditandai dengan area berbatu cukup datar dan titik triangulasi berupa batu bertuliskan PUNCAK CIREMAI 3078 MDPL.

FISIP UI dan FT UI di Sunan Mataram

Puncak Ciremai 3078 mdpl

Meskipun kedatangan kami dengan cuaca berkabut dan angin yang sangat sangat kencang, namun kami sempat melihat kawah yang terkenal itu, sekitar 1,5 jam cuaca begitu cerah dan kami dapat melihat Gunung Selamet di arah timur. Kalau cuaca cerah di  Bulan Juni Juli seharusnya dapat menikmati pemandangan seluruh gunung di Jawa Barat.

Kawah Ciremai

Gunung Selamet Di Timur Ciremai

kami sempat hampir tersesat mencari jalan, saya turun naik tanah  dan semak, terjal licin dan berbahayakan. Namun bersyukur pada jam 16.10 WIB kami menemukan Jalur Apuy yang menyatu dengan jalur Palutungan.

Dari puncak tertinggi teruskan perjalanan ke arah barat (kiri) dan temukan tanda Goa Walet, maka terus turun kearah kanan, jangan mangitari ke arah kiri, karena itu bukan jalan untuk turun. Lurus saja terus ke kanan, maka akan menemukan Simpang Apuy yang merupakan perpisahan antara Jalur Apuy yang ke arah kanan, dan ke arah kiri untuk Palutungan.

Simpang Apuy

Kami ke arah kanan dan terus turun dengan jalur yang menurun namun lebar, hingga kami tiba di Pos V atau Sanghyang Rangkah disini kita dapat mendirikan 4-5 tenda. Karena sudah terlalu malam kami memutuskan untuk membangun tenda karena pencahayaan yang kurang dan salah satu dari teman kami juga kurang sehat. Selama malam kami menikmati bintang yang bertaburan di langit gelap dan terangnya bulan. Hal ini yang tidak dapat diungkapkan kenikmatannya kecuali dengan merasakan sendiri sensasinya, dingin pun terasa melengkapi indahnya malam di ketinggian.

Sanghyang Rangkah 2800 mdpl

12 Maret 2012. 

Jam 10.00 WIB kami melanjutkan perjalanan, dengan jalur yang menurut kami sangat landai, dibandingkan dengan jalur Lingga Jati, dengan santai kami melewati Pos IV atau Tegal Jamuju disini bisa membangun 4-5 tenda. Menuju pos selanjutnya Tegal Masawa perjalanan cukup santai, mungkin karena kami telah melewati jalur curam tanjakan-tanjakan di Linggar Jati. Hingga tidak terasa sampailah kami di Blok Arban, vegatasi mulai cemara dan bunga-bungan indah, ada pondok dari bambu, dan pos nya sangat nyaman ada bangku semen dan terlindung dari hujan.

Pos Di Blok Arban

Dari sana perjalanan ternyata masih jauh untuk menuju basecamp, kita harus melewati gapura selamat jalan, dan perkebunan warga. Sebenarnya bisa menumpang mobil sayur, namun karena saya dan teman-teman ingin merasakan semua perjalanan maka kami memilih untuk berjalan, dan terkadang berlari. Jauh namun pemandangan indah menjadi teman yang tidak baik untuk dilewatkan. Jam 16.00 WIB kami sampai di basecamp Apuy, disana ada lapangan untuk anak-anak bermain, kantor desa dan masjib besar.

Basecamp Apuy

Dari basecamp kita dapat menyewa pick-up dengan 6000/org, sampai terminal, lalu naik elf 17000 sampai pintu tol cileunyi, diteruskan dengan bus sampai pasa rebo 26000. Tibalah kami jam 23.00 WIB dilanjutkan dengan kendaraan umum 112 biaya 4000.

Pembelajaran penting secara personal yang saya dapatkan dalam pendakian ini adalah:

  1. Kesabaran
  2. Kedewasaan
  3. Lebih tulus membantu orang lain
  4. Cepat mengambil keputusan dengan penuh perhitungan
  5. Mau mendengarkan pendapat orang lain
  6. Tidak memaksakan kehendak pribadi
  7. Jangan pernah menunda untuk memberikan bantuan
  8. Jangan perhitungan, dan rajinlah berbagi
  9. Jangan cepat menilai orang
  10. Optimis dan Berfikir Positif.

Pengalaman dan Pembelajaran, manusia punya caranya sendiri untuk menikmati dan memaknai dunia.

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Gunung Hutan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

14 Responses to Pendakian Gunung Ciremei via Linggarjati – Apuy

  1. Meninggalkan jejak dulu disini. . karena jangan meninggalkan apapun selain jejak :D

  2. Arsiya Erlinda says:

    Bagus Wenty.. mumpung masih muda dan masih kuat… live your life to the fullest……

  3. arsiyawenty says:

    hehe begitulah, berbagi waktu dengan alam, itu menyenangkan

  4. japra says:

    wooo bikin iri wooo

  5. Pingback: Gunung Cikurai (Piramida di Tengah Garut) | TWENTYISME

  6. ubay says:

    Jalur linggajati dan linggasana memang mantap euy..
    Bikin kangen…

  7. faizulfikri says:

    wahh..ini nih, padahal deket juga kalo dari Bogor, tapi belum kesampean ndaki ke Ciremai terus.
    [--"]

  8. Dinul says:

    g yangka ternyata ini wenty.. Hebat banget! Mantap dah! :D
    gue besok mau ke ciremai juga lewat linggar jati.. mohon do’anya yaa.. :)

  9. faj says:

    itu dari kp.rambutan pagi atau sore? kira” nunggu bisnya lama gk? heheh, soalnya mau kesana bingung naik bisnya.

    • arsiyawenty says:

      sore, ga lama nunggu bus nya, yg lama dia sering bgt ngetem … naik yg arah kuningan, kondekturnya tau pendaki biasa turun dimana, good luck ya. lancar jaya pendakiannya :)

  10. perjalanan dari base camp linggarjati ke pos VI (goa walet) pos terakhr pendirian tenda, perkiraan brp jam ..?

    dalm minggu2 ini,, ane mau pendakian ke ciremai via apuy jg.. mhon do’a -nya jg ya.. semoga sehat, lancar dan selamat .. (amin)

  11. yoiyok says:

    Cari catatan pendakian ciremai yang tahun 2014 , di google masuknya ke artikel ini juga. Coba baca-baca dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s