Angin tengah malam mengantar keberangkatan saya dan 2 orang teman lainnya untuk melakukan pendakian yang sangat tiba-tiba dengan persiapan yang seadanya. Malam itu 16 Maret 2012 teman saya akan melakukan perjalanan ke Cikurai, sms yang masuk langsung saya balas, dan kesepakatan terbentuk, bahwa kami bertiga akan berangkat hari itu juga ke Gunung Tertinggi di Garut, dan alhasil saya yang sempat ketiduran, memulai keberangkatan jam 01.15 WIB menuju Terminal Kampung Rambutan.
Informasi umum: Gunung Cikurai terletak di Kabupaten Garut dengan ketinggian 2821 mdpl dan merupakan gunung tertinggi ke-4 di Jawa Barat, setelah Gunung Ciremei, Gunung Pangrango dan Gunung Gede. Sangat disarankan pendakian di musim kering, karena jalanan licin saat hujan. Tidak ada wajib lapor, hanya biasanya melalui satpam perkebunan, untuk penjaga pos pemancar hanya ada di hari Sabtu dan Minggu (Kang Asep), jangan lupa sediakan ongkos tambahan sebagai ‘hadiah’.
17 Maret 2012
Berangkat dini hari seharusnya menjadi pilihan terbaik, karena estimasi-nya akan sampai Garut di pagi harinya, namun apa daya, manusia bisa berencana maka Tuhan juga yang memberikan keputusan. Kami menunggu dari jam 01.50 – 04.35 WIB, penantian yang tidak bisa dibilang menyenangkan.
Membunuh waktu dengan minum kopi di pinggiran terminal sambil bercerita ternyata tidak seburuk yang saya bayangkan, karena disana kita bisa bertukar ide, gagasan, atau sekedar bercerita tentang mimpi dan harapan. Saya percaya penantian ini pasti ada hikmahnya.
Rp 30.000 adalah nilai tukar untuk ikut serta dalam perjalanan panjang bus Garut-Jakarta, karena tidak memperhatikan, kami ternyata naik Bus yang keliling melewati Ciawi, Bandung, baru Garut.
Saya sangat menyarankan untuk menggunakan bus yang lewat tol Cipularang saja, karena hanya memakan waktu 4 jam, sedangkan bus yang kami tumpangi begerak perlahan 8 Jam 15 menit, alamak. Kami pun baru tiba di Terminal Guntur Garut jam 12.45 WIB.
Disana terdapat wc umum dan masjid, sehingga bisa melepas kepenatan dengan sedikit mencuci muka, dan beribadah. Kami akhirnya mengisi perut yang sedari tadi memberontak, dan tak disangka, kemudian bergabung 2 orang pendaki lainnya yang juga dari Jakarta, dan kami akhirnya memutuskan berangkat bersama, ini yang kemudian saya terima sebagai hikmah dari penantian di terminal dan perjalanan bus yang sangat perlahan. Everything happens for a reason.
Untuk menuju ke daerah Cilawu, atau ke Perkebunan Dayeuh Manggung sangat saya sarankan untuk tidak menyewa kendaraan, langsung saja naik angkutan umum 06 dengan biaya Rp. 6.000. Jangan terima ajakan untuk menyewa angkot karena terhitung mahal, dan tertipu seperti kami. Setelah itu berhentilah di pintu masuk perkebunan, karena untuk menjaga keselamatan baiknya kita melapor terlebih dahulu ke penjaga keamanan perkebunan.
Untuk mencapai pos ini kita bisa naik ojeg dengan biaya Rp. 30.000 dan pastikan biaya itu sampai pos pemancar bukan hanya samapai pos satpam, karena ternyata jaraknya masih jauh. Untuk pelaporan kita harus bayar Rp. 2000 dan menyerahkan foto copy KTP. Kami menggoreskan nama di buku tamu pos perkebunan jam 13.40 WIB
Karena kesalahan kami harus berjalan tidak kurang dari 10 km dengan naik turun 4 punggungan, jalan yang jauh dan tidak pasti kami lewati dengan kesabaran. Saya sendiri punya prinsip untuk setiap pendakian ketika keadaan mulai dirasa sulit:
nikmati aja, karena enggak semua orang ngerasain.
Deretan kalimat diatas selalu menjadi obat ampuh untuk menghilangkan lelah dan letih dalam pendakian. Pantang menyerah dan tetap menikmati pemandangan kami berlima terus berjalan.
Akhirnya tibalah kami di Pos Pemancar (basecamp) jam 18.20 WIB. Disana kita bisa menyegarkan tubuh dengan menikmati pemandangan kebun teh dan Kota Garut, kami berlima karena cuaca yang tidak mendukung memutuskan untuk camp di pos tersebut, makan malam, shalat dan bersih-bersih.
Malam itu hingga pagi angin bertiup seperti bersiul-siul, begitulah nyanyian alam dalam kesunyian dan dinginnya malam. Memberikan kesempatan kepada manusia untuk menikmatinya, dan memaknai bukan sebagai hambatan namun sebagai bagian dari Ciptaan-Nya.
kami sudah memprediksinya karena sedari siang awan hitam dengan indahnya terus menyelimuti puncak piramida Gunung Cikurai. Malam itu, kami banyak berbincang, mencoba menikmati tiupan angin ditemani dingin malam dan kerlap-kerlip lampu, seperti kunang-kunang, romantisme Kota Garut di ketinggian 1460 mdpl.
18 Maret 2012
Dengan semangat dan rasa penasaran untuk sampai ke puncak, kami melawan dingin dan tiupan angin pagi itu, jam tangan menunjukkan bahwa sudah waktunya bergerak, tepat jam 06.50 WIB pendakian dimulai. Dari pos pemancar akan melewati 5 pos sebelum mencapai Puncak Bayangan lalu Pos 6 dan barulah tiba di Puncak Cikurai 2821 mdpl.
Untuk samapai di pintu masuk hutan kita harus mendaki perkebunan teh, terus saja lurus ikuti jalur, karena terlihat jelas, meskipun ada persimpangan namun tetap akan bertemu pada jalan yang juga sama. Lurus, terjal, dan tanpa bonus adalah kenangan untuk Cikurai, jalurnya sebenarnya mirip dengan jalur Gunung Putri untuk menuju Puncak Gunung Gede, namun perbedaannya adalah pada kecuraman dan minimnya bonus dalam pendakian. Catatan lainnya adalah siapkan air dari pos pemancar karena sampai puncak tidak akan menemukan sumber air.
Setiap pos hanya ditandai dengan lahan cukup datar untuk membangun 2-3 tenda, dan papan petunjuk saja. Saya sarankan untuk teruskan perjalanan, kalaupun mau membuka tenda lebih seru di puncak bayangan yang cukup luas, atau di beberapa meter sebelum puncak cikurai, terutama yang akan mengejar sunset atau sunrise.
Selama perjalanan pepohonan rapat teratur, jalur pun jelas terlihat, kalau lebih teliti sebenarnya kita dapat menemukan kantung semar selama perjalanan, kumbang hijau, jamur, dan banyak tumbuhan lainnya. Sebelum puncak kita juga dapat menemukan pohon abadi edeleweis namun hanya sedikit sekali. Mendekati puncak tananman khas mulai terlihat, dan batang pohon yang mulai dilengkapi oleh lumut.
Tepat jam 11.00 WIB kami tiba di Puncak Cikurai, disana cukup untuk mendirikan banyak tenda, selain itu terdapat bangunan bekas pemancar disana, yang baru saja dicat ulang, namun kenakalan dan vandalisme tidak bisa diredam maka kini sama saja, bangunan tua itu kembali menunjukkan kondisi rusak seburuk orang yang melakukan perusakan, sebodoh manusia yang pernah mencoret-coret didindingnya. Sungguh disayangkan.
Pemandangan di puncak sangat indah, Cikurai seperti berada ditengah pegunungan, dari sana terlihat jelas Gunung Papandayan lengkap dengan kawahnya, Gunung Gede-Pangrango, Gunung Ciremai, Gunung Satria dan bahkan kita dapat menikmati garis Pantai Pamempek, dan Kota Garut secara keseluruhan, sungguh pemandangan yang selalu membuat saya kembali untuk mendaki dan terus mencapai puncak tanah-tanah lainnya, semua lelah letih terlupakan begitu saja, Subhanallah.
Sambil menyeruput susu dan mengunyah roti kami menikmati pemandangan dengan tidur-tiduran di pinggiran puncak, sekaligus menghindari angin yang dingin menerpa tubuh, bercerita tertawa dan tidak lupa untuk juga mengabadikan dalam kilatan cahaya kamera, kami berfoto.
Karena sudah merasa puas kami turun dari Puncak jam 13.35 WIB, kami berlari. Saya sebagai perempuan sendiri dalam kelompok itu merasa sangat harus berani mengejar mereka, alhasil kami hanya menghabiskan waktu 1 jam 45 menit untuk sampai ke pos pemancar, berlari, dan saya tidak kurang dari 5 kali terjatuh, dan hampir mencium dasar jurang, teman saya bahkan terluka kakinya.
Apakah kemudian saya berhenti berlari? Tidak, saya bahkan menambah kecepatan, karena sebelumnya itu pemberitahuan, kalau cara dan kecepatan berlari kita belum sesuai, untuk itu teruslah dan jangan mudah kapok jadikan pembelajaran untuk menjadi lebih cepat dan tepat.
Berpamitan dengan Kang Asep (penjaga pos pemancar) menjadi pertanda bahwa kami harus mulai perjalanan pulang, Rp. 30.000 harus keluar dari simpanan untuk membayar ojeg dan Rp 6.000 untuk anggkutan 06 sampai Terminal Guntur Garut.
Malam itu, kami menikmati ayam goreng dengan sambal super pedas, hanya Rp. 8.000 saja, perut kenyang kami siap melakukan perjalanan pulang dan menyambut rutinitas penat kota, Rp. 35.000 mengantarkan kami sampai Terminal Kampung Rambutan, Rp. 4.000 untuk angkutan 112 sampailah di Kota Depok, dengan selamat. Alhamdulillah.
Pembelajaran: Persahabatan tidak harus dimulai dengan cara formal konvensional, alam punya caranya sendiri mendekatkan manusia, karena disana semua asli apa adanya . . . .


















yg megang kayu harusnya di tinggal aja tuh..
hallo mamet salam kenal, temennya Arya sama Ubay ya? tadinya emg mau ditinggal cuma kasian sama gunungnya kalau dihuni mereka hahah
selalu meninggalkan jejak di blog sahabat . .
nice catper. . terus berkarya wen . .
siip makasi ya, ayo Janu gue rasa kalau ke cikurai sendiri juga sampe kok haha
wah mntang” kaki gw luka lo ye wen maen mao tinggal” aje.. hhahaha
gue ngejer si ucup robot, haha dia lari, daripada gue tertinggal (alibi) jadinya lari, tapi kan lo ditemenin sapi hahah sumpah gantungan sapi ubay, nyaring.
iye nyaring jga tuh gantungan’y.. ude kaya di kejar” sapi beneran gw !! hahaha
mungkin biar seru kita semua bawa ya, beuh gue rasa se-Garut denger haha
bener jga tuh kita bawa satu”,jdi klo mncar tinggal bunyiin aje deh !! hahaha
Ternyata klonengan gw berkesan yak…..
hahah yoi, gue rasa lo harus bawa terus bay, biar jadi ciri khas aja, kan ga semua orang berpikiran buat bawa, berani beda. haha
Insyaallah gw bawa terus…hehhe
dibawa dipake juga bay, haha tgl 13-15 jadi ikut ga?
Udah daftar belom wen..?
udah senen kemaren nitip junior, karena quota penuh jadi lewat green ranger
Kalo nambah orangnya dadakan bisa gak..?
bisa aja bay, ga ketahuan juga kalau bawa 1 aja, asal ga rame, gue udah simaksi senen kemaren, nitip temen, tapi quota penuh, jadi lewat green ranger
sayang gw ga bsa ikut nih
ia nih, ntr kapan-kapan kita rencanakan pendakian lainnya ya biar lo juga bisa ikut hahah
sip deh.. nnti gw atur jadwal dulu bro
papandayan yuk